Logo Lanfrica

Exploring Mathematical Literacy Domains Through Banggai Yam Agricultural Practices: An Ethnographic Ethnomathematics Study

Domaine:

education

Type de record:

paper
Créateur:
SaisuhAng
Éditeur:
Uni
Hôte:
Ethnomathematics provides a meaningful approach to connecting mathematical concepts with learners’ cultural contexts; however, empirical evidence linking agricultural practices with mathematical literacy domains remains limited. This study aims to explore mathematical structures embedded in Banggai yam farming practices and examine their relevance to mathematical literacy development. This research employed a qualitative ethnographic approach conducted in Banggai Islands Regency, Indonesia. Data were collected through participant observation, in-depth interviews with farmers and traders, and documentation of farming activities. Data were analyzed using domain, taxonomic, and componential analysis to identify cultural categories and their underlying mathematical structures. The findings reveal that Banggai yam farming involves systematic mathematical reasoning reflected in local and formal measurement systems. Farmers use traditional units such as belek (≈150 seed pieces) to estimate planting needs and land area, demonstrating proportional reasoning and quantity relationships. Spatial reasoning is evident in zigzag and triangular planting patterns with consistent one-meter spacing, reflecting geometric structuring and spatial optimization. Farmers also apply estimation and numerical calculations to predict yields, measure planting depth, and determine economic value using both local units and kilograms. These practices align with key mathematical literacy domains, including quantity, space and shape, and uncertainty. This study contributes to ethnomathematics by demonstrating how cultural agricultural practices embody structured mathematical reasoning and provides a culturally relevant foundation for developing contextual and culturally responsive mathematics learning. Abstrak Etnomatematika menawarkan pendekatan yang bermakna untuk menghubungkan konsep-konsep matematika dengan konteks budaya peserta didik. Namun, bukti empiris yang mengaitkan praktik pertanian dengan domain literasi matematika masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi struktur matematika yang terkandung dalam praktik budidaya ubi Banggai serta mengkaji relevansinya terhadap pengembangan literasi matematika. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi kualitatif yang dilaksanakan di Kabupaten Banggai Kepulauan, Indonesia. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan petani dan pedagang, serta dokumentasi aktivitas budidaya. Data dianalisis menggunakan analisis domain, taksonomi, dan komponensial untuk mengidentifikasi kategori budaya beserta struktur matematika yang mendasarinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik budidaya ubi Banggai mengandung penalaran matematis yang sistematis, yang tercermin dalam penggunaan sistem pengukuran lokal dan formal. Petani menggunakan satuan tradisional seperti belek (≈150 potong bibit) untuk memperkirakan kebutuhan bibit dan luas lahan, yang menunjukkan penerapan penalaran proporsional dan hubungan kuantitas. Penalaran spasial tampak pada pola tanam zigzag dan segitiga dengan jarak tanam yang konsisten sekitar satu meter, yang mencerminkan struktur geometris dan optimalisasi ruang. Petani juga menerapkan estimasi dan perhitungan numerik untuk memprediksi hasil panen, mengukur kedalaman tanam, serta menentukan nilai ekonomi menggunakan satuan lokal maupun kilogram. Praktik-praktik tersebut selaras dengan domain utama literasi matematika, yaitu kuantitas, ruang dan bentuk, serta ketidakpastian. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan etnomatematika dengan menunjukkan bahwa praktik pertanian berbasis budaya mengandung penalaran matematis yang terstruktur serta menyediakan landasan yang relevan secara budaya untuk mengembangkan pembelajaran matematika yang kontekstual dan responsif terhadap budaya.

Languages

Similaires