Triase merupakan tahap kritis dalam pelayanan kesehatan primer
yang menentukan keselamatan pasien, namun pelaksanaannya di puskesmas
masih bergantung pada penilaian klinis dan pengalaman perawat sehingga
rentan terhadap subjektivitas serta variabilitas antarpetugas. Kesalahan triase
berdampak serius: under-triage menunda penanganan pasien kritis, sedangkan
over-triage memboroskan sumber daya yang terbatas. Penelitian ini
mengembangkan sistem triase cerdas berbasis Natural Language Processing
(NLP) melalui fine-tuning model IndoBERT (indobert-base-p1) untuk
mengklasifikasikan keluhan pasien berbahasa Indonesia berbentuk teks bebas
ke dalam tiga tingkat triase (Hijau, Kuning, Merah), dengan studi kasus di
Puskesmas Kuta Utara. Model dilatih pada dataset sintetis seimbang berisi
10.000 keluhan dengan pembagian terstratifikasi 70/15/15 dan kombinasi
teknik optimasi berupa dynamic padding, cosine learning rate scheduling
dengan warmup, early stopping, label smoothing, serta pembobotan kelas.
Model mencapai F1-macro 1,0000 pada test set (1.500 sampel), melampaui
target minimum 0,85, dengan waktu pelatihan ±2 menit 51 detik dan tanpa
kasus under-triage maupun over-triage. Capaian tersebut dikualifikasi secara
jujur karena hanya berlaku pada data sintetis berbasis template, sehingga lebih
tepat dibaca sebagai bukti keberhasilan rekayasa fine-tuning daripada ukuran
akurasi klinis final. Sistem direkomendasikan diposisikan sebagai alat bantu
rekomendasi awal (assistive triage) dengan keputusan akhir tetap pada
perawat, dan penelitian lanjutan diarahkan pada uji validitas menyeluruh
menggunakan data keluhan riil.